-->

Rabu, 25 Agustus 2010

PNPM Watugajah Buat Drainase


Wilayah Watugajah merupakan desa yang terletak di bawah kaki pegunungan seribu. Karena terletak di bawah pegunungan, maka jika musim penghujan tiba banyak tanah yang longsor. Tak terkecuali tanah di tepi jalan utama desa, sehingga jalan yang sudah beraspal itupun sering becek karena banyaknya lumpur yang masuk ke badan jalan. Maklumlah selama ini saluran air di tepi jalan utama belum ada, kalaupun ada jumlahnya sangat minim. Menyadari hal tersebut maka masyarakat bersama Tim Pengelola Kegiatan PNPM Mandiri Pedesaan pada tahun anggaran 2010 ini sepakat untuk membangun drainase. Pembangunan drainase sepanjang jalan Pedukuhan Watugajah menuju Plasan ini menghabiskan dana sebesar Rp. 136.679.900,00 yang dikerjakan selama 90 hari dengan panjang 325 m.

B
erbeda dengan tahun-tahun sebelumnya pelaksanaan pembangunan yang didanai oleh PNPM Mandiri tahun 2010 ini pelaksanaannya lebih awal dibandingkan dengan waktu se
belumnya. Sehingga pada pada Minggu kedua bulan Agustus tahun 2010 ini sudah diadakan Musyawarah Desa Pertanggungjawaban 40% dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan. Musyawarah yang dilaksanakan di Balai Desa Watugajah ini selain dihadiri Kepala Desa beserta perangkat desa juga dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat serta lembaga desa seperti anggota BPD dan ibu-ibu pengurus PKK. Pada musyawarah ini selain penyampaian laporan oleh Tim Pelaksana Kegiatan tentang penggunaan dana yang sudah diterima dari pemerintah juga diadakan tanya jawab seputar pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan. Sehingga diharapkan untuk pelaksanaan pembangunan yang didanai oleh PNPM Mandiri dimasa yang akan datang dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

S
edangkan pe
laksanaan pembangunan drainase itu sendiri kini sudah selesai. Dengan selesainya pembangunan drainase ini jalan utama di desa Watugajah kini tampak lebih lebar dan lebih rapi dibanding waktu sebelumnya.

Minggu, 01 Agustus 2010

Silaturahmi Warga Watugajah

Sebagai ungkapan rasa memiliki tanah kelahiran dan tempat mereka dibesarkan beberapa warga Watugajah yang merantau di Jabodetabek menggadakan pertemuan silaturahmi dengan warga Watugajah yang menetap di desa. Meskipun tidak dihadiri semua perantau yang ada di Jabodetabek acara yang digelar di Balai Desa Watugajah Gedangsari Gunungkidul pada hari Sabtu tanggal 31 Juli 2010 ini berjalan meriah dan penuh keakraban. Acara ini selain digunakan untuk kangen-kangenan atau tamba kangen antara warga yang ada di desa dengan warga yang ada di perantauan juga dilaksanakan dalam rangka menyongsong bulan suci Ramadhan 1431 H.


Dalam acara silaturahmi ini memberikan sambutan antara lain Bapak Suparjo Surotinoyo sebagai wakil dari Warga Watugajah di Jabodetabek. Pada acara silaturahmi tersebut beliau mengutarakan bahwa acara ini sudah dilaksanakan yang ketiga kalinya yaitu pada tahun 2000 kemudian 2008 dan disusul tahun 2010. Selain itu beliau mengemukakan bahwa warga Watugajah yang tinggal di Jabodetabek masih merasa handarbeni seperti pada waktu dulu keti ka masih belum merantau di ibu kota. Oleh karena itu beliu meminta hendaknya semua warga Watugajah selalu bekerja keras untuk membangun desanya.


Menanggapi apa yang disampaikan oleh warga perantaun Kepala Desa Watugajah Subirman mengatakan bahwa “Selaku wakil dari warga Desa Watugajah mengucapkan selamat datang di desa kelahiran dan terimah kasih atas kepedulian warga Watugajah yang tinggal di Jabodetabek semoga warga Watugajah yang merantau selalu mendapat lindungan dan rejeki dari Allah SWT”.

Pada acara silaturhmi tersebut selain dihadiri warga Watugajah di Jabodetabek dan masyarakat Watugajah yang menetap di desa juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat dan Pejabat dari Kecamatan Gedangsari seperti Bapak Camat Gedangsari, Kapolsek, Kepala Desa terdekat juga perangkat desa se Desa Watugajah serta tamu undangan lainnya. Sebagai puncak acara diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Wahyu Sri Makutharama yang bawakan oleh Ki Dalang Semi Hadi Carito dari Hargomulyo Gedangsari.