-->

Sabtu, 30 April 2016

SISWA TK PKK WATUGAJAH RAYAKAN HARI KARTINI



Meski secara sederhana anak-anak TK PKK WATUGAJAH ikut merayakan hari lahirnya RA Kartini. Berbagi kegiatan dilaksanakan guru bersama para siswanya. Kegiatan tersebut meliputi Upacara bendera, dan berbagai lomba seperti : keserasian penggunaan busana tradisional, pertukaran kado silang, permainan tradisional, dan kegiatan diakhiri dengan karnaval keliling untuk mengenal daerah - daerah di wilyah Watugajah dan sekitarnya.

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat adalah nama lengkap beliau. Ia dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati Jepara. Kartini adalah keturunan ningrat. Hal ini bisa dilihat dari silsilah keluarganya. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari NyaiHaji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

Selasa, 01 September 2015

Kegiatan Bulan Agustus

https://picasaweb.google.com/watugajahgk/KKNUSD2015Watugajah
Berbagai kegiatan dilakukan oleh warga masyarakat di lima padukuhan desa Watugajah menyemarakkan perayaan peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70.  Hampir setiap padukuhan seperti Jelok, Tamansari, Plasan diprakarsai oleh warga masyarakat, Karang taruna dan dibantu oleh mahasiswa KKN dari Universitas Sanata Darma Yogyakarta menggelar berbagai lomba untuk mengisi kegiatan tersebut.  
Di Padukuhan Gunungcilik dipelopori oleh para pemuda menyelenggarakan kegiatan yang diikuti oleh  anak-anak, remaja dan orang tua. Kegiatan tersebut seperti lomba makan kerupuk, kasti yang diikuti oleh ibu-ibu dan remaja putrid, sepak bola yang mempertandingkan pemuda dan orang tua.
Sedang di Padukuhan Watugajah sendiri para pemuda, orang tua dan dibantu mahasiswa KKN mengadakan berbagai kegiatan. Kegiatan yang dimaksud seperti lomba masangin, memasukkan paku dalam botol, pecah air, untuk anak. Sepakbola untuk bapak-bapak dan pemuda. Lomba untuk ibu-ibu. Malam tirakatan yang diisi dengan ramah tamah antara warga, drama anak-anak hasil binaan para mahasiswa KKN, cerdas cermat yang diikuti oleh remaja, pemuda, dan ibu-ibu, renunangan dan doa  bersama untuk mengingat jasa para pahlawan, pembagian hadiah bagi warga yang menghadari malam tirakatan.

Lihat foto lainnya disini

Minggu, 21 Juni 2015

Bukit Green Villa Gedangsari



Kini Gunungkidul bukan lagi dipandang sebagai daerah tandus yang sering mengalami kekeringan di musim kemarau. Tetapi Gunungkidul memiliki pesona yang luar biasa sebagai obyek wisata. Kita sudah mengenal puluhan pantai disepanjang wilayah selatan yang memiliki pesona sebagai obyek wisata yang luar biasa ditambah dengan obyek wisata baru yang berupa gua. Sedang untuk wilayah utara masih sangat minim dengan obyek wisata meskipun sudah ada wisata air terjun Curuk di desaTegalreja dan Luweng di desa Sampang.
Oleh karena itu untuk menggalakkan wisata di sektor utara pemerintah melalui program MP3KI (Master Plan Percepatan Pengurangan Kemiskinan Indonesia) membikin Wisma Tani di wilayah segitiga desa Tegalrejo, desa Mertelu dan desa Watugajah. Wisma Tani ini lebih dikenal dengan Green Villa yang terletak diatas sebuah bukit. Tempat ini kini sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan dari daerah Gunungkidul itu sendiri atau daeah lain seperti Klaten, Yogyakarta dan Solo. Ratusan orang berkunjung di tempat ini terutama menjelang hari libur atau bertepatan dengan hari libur. Pengunjung yang datang tidak hanya remaja saja tetapi para orang tuapun banyak yang mendatangi tempat ini bersama sanak keluarganya dan tak terkecuali komunitas sepeda motor atau pecinta fotografi banyak yang mendatangi obyek wisata ini. Dari tempat ini kita bisa melihat pemandangan yang begitu indah untuk melihat wilayah Klaten dan sekitarnya dengan udara yang sangat sejuk. Kalau kita memandang ke utara, maka akan nampak hamparan lembah ngarai yang begitu luas, obyek wisata Rowojombor, makam Sunan Pandanaran di Bayat Klaten tampak terlihat jelas terlihat dari bukit ini. Sedang pemandangan ke arah selatan, barat dan timur kita bisa melihat bujuran pegunungan seribu di wilayah Gunungkidul.
Untuk menuju tempat ini tidaklah begitu sulit untuk wisatawan yang menggunakan sepeda motor. Bagi penduduk yang tinggal di daerah Klaten bisa melalui dua jalan altenatif yaitu melalui desa Watugajah tepatnya dari Puskesmas Watugajah naik ke bukit Clongop kemudian belok ke Timur sekitar dua kilometer, maka kita sudah sampai di tempat ini. Jalan alternatif lainnya adalah melalui desa Tegalrejo kemudian naik ke atas bukit Guyangan belok ke barat kurang lebih lima ratus meter. Sedang bagi pengunjung dari wilayah selatan kita bisa melalui desa Hargomulyo atau Mertelu.
Harapan ke depan tempat ini semakin ramai di kunjungi wisatawan karena tempat ini bisa digunakan untuk menjual hasil panen buah di wilayah Gedangsari pada umumnya seperti Mangga atau Srikaya. Bahkan juga bisa digunakan untuk acara outbond, jelajah alam, berkemah, hiking atau acara keluargapun bisa terlaksana ditempat ini karena sudah tersedia sarana berupa bangunan yang cukup memadai.
Namun untuk menjadi obyek wisata masih banyak pembenahan yang perlu dilakukan oleh warga atau pemerintah terkait, seperti akses jalan banyak yang rusak dan masih sulit untuk dilalui kendaraan terutama roda empat karena jalannya sebagaian besar masih berupa tanah meskipun sudah ada yang dicor rabat beton. Lebih-lebih pada musim penghujan jalan menjadi licin. Disamping itu penunjuk arahpun masih sangat minim atau boleh dikatakan belum ada.

Bagi warga Gedangsari umumnya seperi warga desa Watugajah, Sampang, Serut, Tegalrejo, Mertelu, Hargomulya dan Ngalang alangkah baiknya jika nanti pulang ke kampung halaman pada waktu lebaran menyempatkan diri mengunjungi tempat ini.