Jumat, 17 Juni 2011

POPULASI BURUNG DI WATUGAJAH SEMAKIN BERKURANG

Ketika fajar menyingsing haripun mulai pagi dan semua makhluk hidup bangun dari tidurnya untuk memulai aktifitasnya masing-masing tak terkecuali burung. Mereka mulai keluar dari peraduannya sambil berkicau dengan riangnya menyambut hari mulai pagi. Namun keciau burung yang begitu merdu itu sekarang semakin tak terdengar lagi. Seperli kicau burung kutilang, derkuku, jalak, parkit, kini hanyalah tinggal kenangan, karena dari kehari polulasi burung semakin berkurang bahkan terancam mengalami kepunahan. Sebenarnya burung memberikan manfaat yang besar bagi manusia baik dari daging, telur, warna warni bulanya yang indah , gerak-gerik, tingkah laku yang lucu dan kicaunya yang merdu. Burung juga dapat dijadikan indikator yang baik untuk mengidentifikasi daerah yang kaya keragaman hayatinya, termasuk perubahan dan masalah lingkungan yang ada. Dengan menyenangi burung berarti kita juga mensyukuri kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan yang begitu banyak dan beragam ini. Dari kehidupan burung pula kita dapat mengambil hikmahnya, bahwa Tuhan akan selalu memberikan rejeki bagi umatnya yang mau berusahan untuk mencarinya dengan bersungguh-sungguh.

Populasi burung di Watugajah sendiri kini jauh berkurang hal ini disebabkan banyaknya perburuan liar. Hampir setiap pagi banyak pemburu burung datang ke Desa Watugajah, lebih-lebih pada hari libur. Mereka datang secara perorangan tetapi tak sedikit yang datang secara berkelompok. Dengan mengendari sepeda motor dan membawa senapan yang dilengkapi dengan berbagai asesoris dan berpakaian khusus. Kebanyakan pemburu ini berasal dari luar wilayah Watugajah sendiri, mereka datang tidak mengenal waktu. Kadang pagi di saat burung masih keluar dari peraduannya dalam keadaan masih lapar sudah diintai dan dikejar-kejar oleh mereka. Entah untuk apa mereke berburu, apakah untuk mencari dagingnya kemudian di konsumsi atau untuk gagah-gagahan biar mereka dianggap penembak jitu. Kemungkinan yang kedua inilah yang terjadi, karena mereka berburu dengan naik kendaraan bermotor yang bagus, senapannyapun bermerk, dan pakaiannyapun berseragam tertentu. Boleh dikatakan mereka dari orang berkecukupan, kalau hanya untuk membeli daging burungpun tentunya dengan kekayaan yang mereka miliki dia akan mampu.

Akibat dari perburuan liar inipun juga mengancam populasi unggas yang lain, seperti ayam hutan yang beberapa waktu lalu banyak dijumpai di bukit-bukit wilayah Watugajah. Kini populasi ayam hutan hampir dikatakan tidak ada lagi, hal ini dapat dilihat dari aktifitas ayam hutan yang setiap hari berkokok sudah tidak terdengar kembali atau ayam hutan yang kadang-kadang sampai di lingkungan wilayah penduduk kinipun sudah tidak ada lagi. Selain itu aktifitas pemburu inipun kadang mengganggu aktifitas penduduk, karena mereka datang di perkampungan penduduk tanpa permisi dengan masyarakat sekitar. Bahkan tidak mengenal waktu, kadang pagi, sing, sore atau bahkan malam hari. Padahal jika kita amati di daerah tertentu pemulung saja dilarang masuk meskipun barang-barang yang dicari hanyalah barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Mungkinkah kita perlu membuat aturan perburuan unggas dengan Peraturan Daerah atau kita perlu membuat tulisan disetiap jalan masuk di wilayah Watugajah dengan tulisan “PEMBURU DI LARANG MASUK”.

Selasa, 12 April 2011

Paguyuban Malem Minggu Pon "Ngudi Rejeki"

Sebagaimana layaknya perkumpulan di desa waktu berkumpul warganya menggunakan hari pasaran. Perkumpulan yang dimaksud adalah paguyupan Ngudi Rejeki yang berada di wilayah RT 01 RW 01 Dusun Watugajah Desa Watugajah Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul. Paguyuban ini merupakan tempat berkumpulnya bapak-bapak di lingkungan wilayah tersebut, yang dilaksanakan selama 35 hari atau dalam istilah bahasa Jawanya adalah selapan hari sekali tepatnya setiap Malem Minggu Pon. Pada komunitas ini para anggota berkumpul untuk melakukan kegiatan seperti simpan pinjam, mengadakan tabungan wajib untuk kas paguyuban, mengadakan tabungan sukarela yang nantinya akan dikembalikan kepada anggota sesuai besar tabungan yang dimilikinya, mengadakan arisan, memberikan santunan jika ada anggota atau keluarga yang menderita sakit. Selain kegitan tersebut pada komunitas ini juga membahas kemajuan lingkungan sekitar dengan cara menyampaikan aspirasi dan melaksakanan musyawarah serta menerima informasi yang ada hubungannya tentang pemerintahan desa yang biasanya disampaikan oleh Kepada Dukuh atau Kepala Desa. Pada waktu tertentu paguyuban juga mengadakan kegiatan kerja bakti untuk bebersihan lingkungan, mengadakan kegiatan keagamaan, dan silaturahmi jika ada anggota atau warga yang sedang menderita sakit, jagong jika ada warga yang punya hajatan.

Bahkan dari hasil perkumpulan ini, kini warga di lingkungan tersebut telah memiliki barang-barang inventaris seperti kursi, tikar, piring, sendok, gelas dan barang pecah belah lainnya. Dengan barang-barang inventaris tersebut masyarakat yang punya hajat kecil-kecilan tidak usah meminjam dari tempat lain. Manfaat lain dari perkumpulan ini adalah memberikan pinjaman kepada anggotanya yang memerlukan modal untuk berusaha kecil-kecilan dan dari uang kas yang dimiliki paguyuban juga melakukan pembangunan untuk kemajuan lingkungan serta penambahan barang-barang inventaris yang diperlukan warganya. Pada tahun 2007 paguyuban ini telah mendapat bantuan pinjaman modal dengan bunga lunak untuk pemeliharaan tanaman mangga dari Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul dan berkat ketekukan anggotanya pinjaman tersebut telah lunas pada tahun 2010.

Rabu, 16 Maret 2011

Siswa TK PKK Watugajah Kunjungi Kids Fun

Bermain dengan alat mainan tradisional merupakan hal yang sudah biasa bagi siswa TK PKK Watugajah baik di sekolah atau di rumah. Karena keberadaan Taman Kanak-kanak yang berada di pedesanaan ini sehari-hari sudah akrab dengan permainan tradisional dan tentu saja sudah akrab dengan alam lingkungan sekitarnya. Sehingga untuk mencari dan membuat alat permainan tradisional tidaklah sulit. Untuk membuat alat permainanpun cukup mengambil dari alam sekitarnya seperti membuat alat permaian mobil-mobilan dengan tanah liat, dari balok kayu yang tidak terpakai, atau dari kulit jeruk bali, meronce dengan menggunakan pelepah daun ketela, membuat terompet dari janur pohon kelapa, membuat gasing dari buah bluluk, membuat kapal-kapalan atau pesawat terbang dari kertas bekas, membuat penutup kepala dari rangkaian daun nangka, bermain kuda dengan pelapah daun pisang, naik perahu di sungai dengan batang bambu atau pisang, membuat kalung dari biji srikaya, memawarnai dengan menggunakan warna dari bahan dedaunan yang masih muda, dan masih banyak permainan lainnya yang bisa dibuat dari bahan alam sekitar atau bahan bekas yang tidak terpakai. Pada hari tertentu para siswanya juga diperkenalkan dengan lingkungan dan alam sekitar dengan diajak berjalan mengelilingi tempat-tempat disekitarnya untuk lebih mengenal kekayaan alam, dan keindahan alam yang ada di wilayah tersebut.

Namun demikian dengan majunya perkembangan teknologi anak pun perlu diperkenalkan dengan lingkungan yang lebih modern. Oleh karena itu pada hari Minggu tanggal 6 Maret 2011 sebanyak 26 siswa yang didampingi oleh orang tua masing-masing mengikuti kunjungan wisata sambil bermain di Kids Fun Yogyakarta. Dengan kunjungan ini diharapkan anak akan mendapat pengalaman sesuai dengan usianya tentang kemajuan teknologi. Karena di arena ini anak bisa bermain dengan alat-alat yang lebih modern seperti mengemudikan mobil, mengemudikan kendaraan bermotor di darat maupun di air, naik kereta ulat, flyling fox, arung jeram, Jurassic park (petualangan dinosaurus), mandi bola, komedi putar, sepeda air, bermain senI peran di atas panggung dan permainan lainnya.