Tampilkan postingan dengan label Media massa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media massa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Kerja Bakti Warga Gunungcilik Temukan Ratusan Peluru




GUNUNGKIDUL—Sebanyak 145 butir peluru berbagai ukuran ditemukan warga Dusun Gunungcilik RT 09/RW 08, Desa Watugajah, Kecamatan Gedangsari saat bekerja bakti, Minggu (24/6).
Kapolres Gunungkidul, AKBP Ihsan Amin mengatakan, peluru itu ditemukan di sekitar makam Sumbersari, Minggu (24/6) sekitar pukul 10.00 WIB.
“Saat kerja bakti, warga menemukan peluru itu,” kata AKBP Ihsan, Selasa (26/6).
Peluru itu pertama kali ditemukan warga Dusun Gunungkcilik, Marno Suwito, 70 serta Ngadino, 35. Kala itu warga sedang mencabut akar pohon mangga. Ratusan peluru itu tertanam di bawah akar pohon tersebut. Penemuan peluru itu lalu dilaporkan ke Kepolisian Sektor Gedangsari.
“Pelurunya menggumpal di bawah tanah,” kata AKBP Ihsan.
Sebanyak 82 peluru yang telah berkarat itu di antaranya untuk senjata api laras panjang. Sisanya merupakan peluru senjata api laras pendek.
“Peluru itu masih aktif dan terbungkus plastik,” katanya.
Berdasarkan identifikasi, di ujung peluru itu terdapat angka 1956 serta 1961. Peluru itu, ujar AKBP Ihsan, dapat digunakan untuk senjata jenis FN serta AK-47.
Polres Gunungkidul membawa peluru itu ke Gegana Brimob DIY untuk identifikasi lebih lanjut. (ali). Sumber Harian Jogja





Jumat, 09 Desember 2011

Sengketa Tanah Watu Gajah Dibawa ke Provinsi DIY

Sengketa Tanah Watu Gajah Dibawa ke Provinsi DIY

Tribun Jogja - Selasa, 6 Desember 2011 23:37 WIB

|


Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kasus sengketa tanah di wilayah Watu Gajah, Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, memasuki babak baru. Demi menyelesaikan kasus tanah yang melibatkan Kabupaten Klaten, Jateng, tersebut, akan diadakan rapat koordinasi dengan pihak Provinsi DIY, Rabu (7/12/2011), di Hotel Rose In, Jalan Parangtritis, Kabupaten Bantul.


Kepala Desa Watu Gajah, Gedangsari, Subirman, Selasa (6/12), menyatakan bahwa hal yang membuatnya risih adalah warga Kali Gayam, Wedi, Klaten, mengklaim tanah yang tak bertuan, yang menurutnya adalah Sultan Ground, sebagai wilayah Klaten. "Memang saat ini sudah tidak ada masalah. Hanya, sering Klaten mengangkat permasalahan ini di kabupatennya, bahkan sudah sampai Semarang (Provinsi Jateng, Red)," katanya kepada Tribun Jogja.


Subirman juga menjelaskan, sudah ada investigasi intern terhadap permasalahan tersebut. Ia menjelaskan, pihak pemkab sudah meninjau ke lokasi, namun hingga saat ini belum ada solusi riil terhadap sengketa tanah di wilayah perbatasan tersebut. "Ada pungutan dan retribusi yang dilakukan oleh Pemdes (pemerintah desa, Red), dan di tanah tersebut ada sekitar empat kios milik warga saya," tambahnya.


Konflik tersebut mengemuka sejak sekitar 10 tahun lalu. Beberapa waktu lalu Kasubag Pembinaan dan Pengembangan Wilayah Setda Gunungkidul, Asih Triwahyuni, menjelaskan, tanah di wilayah rawan sengketa tersebut terdiri atas tanah Sultan Ground untuk kawasan Gunungkidul, sedangkan untuk Kabupaten Klaten adalah tanah kas desa.


Hasil investigasi Pemkab, bulan Oktober lalu, awal perselisihan adalah sejak dibangunnya jalan oleh Pemkab GunungKidul. Ia menambahkan, adanya akses jalan tersebut diikuti pembangunan kios-kios yang memiliki nilai strategis.


Asek I Bidang Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul, Eko Subiyantoro, membenarkan ada rencana penyelesaian melalui rapat koordinasi dengan piahk Pemrov DIY. Hanya, ia tidak mengetahui secara detail. Ia memastikan bahwa melalui rapat tersebut akan segera diberikan solusi, karena menyangkut permasalahan antarprovinsi. (*)

Kamis, 18 Februari 2010

KEMENTERIAN PDT BANTU 400 UNIT SURYASELL ; 5 Dusun Belum Teraliri Listrik

16/02/2010 08:03:01 WONOSARI (KR) - Hingga memasuki awal 2010 ini di Kabupaten Gunungkidul masih ada 5 dusun yang belum mendapat aliran listrik. Akibatnya wilayah yang sebagian besar berada di daerah tertinggal masih gelap gulita. Sementara PLN sendiri sulit untuk bisa menjangkau wilayah tersebut karena faktor geografis dan ekonomis.
Lima dusun yang belum mengenyam penerangan listrik yaitu Dusun Suko Desa Mertelu dan Dusun Ketela Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Dusun Duwet Desa Purwodadi Kecamatan Tepus, Dusun Janganmati, Desa Jepitu Kecamatan Girisubo dan Dusun Danyangan Kecamatan Nglipar.
“Karena PLN tidak bisa menjangkau wilayah tersebut, maka agar warga bisa memperoleh penerangan listrik dimintakan bantuan ke Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dengan menggunakan suryasell,” kata Kepala Bidang Pertambangan Dinas Perindagkoptam Gunungkidul Ir Pramuji didampingi Wakijan kepada KR, Kamis (10/2).
Bantuan dari Kementerian PDT untuk penerangan sudah terealisir sejak 2008 yakni di Desa Watugajah Kecamatan Gedangsari sebanyak 200 KK, sedangkan untuk 2009 lalu juga mendapatkan kembali bantuan suryasell dari Kementerian PDT sebanyak 200 unit, yang dialokasikan di Desa Banjarejo Tanjungsari 50 unit, Desa Ngestirejo Tanjungsari 50 unit dan di Desa Tegalrejo Keamatan Gedangsari 100 unit.
Untuk Desa Tegalrejo baru selesai akhir Desember 2009 lalu meliputi Dusun Gupit dan Ketela masing-maisng 50 unit. Sisanya untuk dua dusun ini masih ada 122 kepala keluarga yang belum bisa menikmati penerangan listrik sehingga akan diusulkan pada 2010 ini. Di samping itu juga diusulkan untuk Dusun Duwet Purwodadi dan Dusun Janganmati Desa Jepitu.
Diakui Wakijan, bantuan dari Kementerian PDT tersebut selama 2009 lalu untuk 200 unit suryasell besarnya Rp 1,3 miliar, karena setiap unit suryasell yang mampu menghidupkan lampu kurang lebih 150 watt ini memakan biaya Rp 6,5 juta. Hanya saja para warga ini tidak harus membayar rekening, karena sumber energi dari tenaga matahari. Warga hanya diminta untuk memberikan iuran guna perawatan perangkat suryasell agar awet.
Di samping itu bantuan yang berasal dari Kementerian PDT tersebut tak diimbangi dengan sharing dari APBD. Padahal sesuai UU Nomor 23 tahun 2009 disebutkan daerah wajib memberikan pelayanan penerangan listrik PLN secara gratis kepada warga miskin.(Awa)-z

Sabtu, 19 Desember 2009

Mangga Malam Terancam Punah

Senin, 16 November 2009 | 19:44 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com - Upaya pematenan beberapa produk lokal ternyata belum mampu memberikan jaminan terhadap pelestariannya. Beberapa produk lokal khas Gunung Kidul yang telah dipatenkan seperti mangga malam dan padi tadah hujan jenis Mendel serta segreng justru kian ditinggalkan sehingga terancam punah.

Penduduk di wilayah Desa Watugajah, Gedangsari, Gunung Kidul yang dulunya menanam mangga lokal jenis mangga malam, misalnya, kini mulai beralih menanam mangga pasaran seperti jenis manalagi, harum manis, atau gadung. Regenerasi mangga malam juga terkendala sulitnya pencangkokan sehingga harus ditanam menggunakan biji Mangga malam setidaknya butuh minimal delapan tahun untuk berbuah, berbeda dengan mangga jenis manalagi yang hanya butuh tiga tahun.

Sekitar separuh dari populasi tanaman mangga malam yang ada saat ini pun telah mati karena terserang serangga kripik. “Jika tidak ingin mangga malam punah, harus ada solusi pemberantasan hama dari pemerintah,” ujar pemilik kebun mangga malam Adi Wiyoto, Senin (16/11).

Separuh dari 50 batang pohon mangga malam yang ditanam Adi Wiyoto di kebunnya kini telah mati akibat serangan serangga kripik. Serangga tersebut menggerogoti batang pohon hingga berongga dan mudah patah. Pohon mangga malam lebih rentan serangan serangga dibanding mangga jenis lain.

Petugas Penyuluh Lapangan dari Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Gunung Kidul sebenarnya sudah menyarankan pemberantasan hama serangga dengan meletakkan tulang binatang di bawah pohon sebagai penarik serangga. Namun, warga sulit mencari tulang dalam jumlah besar. Dibanding mangga jenis lain, mangga malam tergolong unggul pada rasa manis yang dominan. Mangga malam ini sebenarnya bisa menawarkan keberagaman rasa ketika pasar mangga hanya dibanjiri jenis tertentu seperti manalagi. Penampilan luar mangga malam pun cukup menarik dengan kulit buah berwarna kuning kemerahan.

Perhatian pemerintah terhadap pelestarian buah mangga malam dinilai semakin melemah. Pada tahun 1997, ibu-ibu PKK di Dusun Watugajah pernah difasilitasi pemerintah untuk studi banding perawatan buah mangga ke Surabaya, Jawa Timur. Kini, upaya serupa tidak pernah lagi dilakukan. Harga jual mangga malam pun cenderung murah, sekitar Rp 2.000 per kilogram. Padi tadah hujan jenis segreng dan Mendel yang telah dipatenkan pun kini juga semakin jarang ditaman oleh petani karena masa panennya yang lebih lama.

Rabu, 03 Juni 2009

Kotak Suara

Sebuah kotak suara yang digunakan saat Pemilu 1955 koleksi milik Ny. Dirjosetoto warga Watugajah, Gedangsari, Gunungkidul menjadi salah satu daya tarik Pameran “KR & Saksi Sejarah: Belajar dari Pemilu 1955″ tanggal 20 Maret - 4 April 2009di Griya KR Jl. Mangkubumi Yogyakarta.

Kotak Suara Pemilu 1955

Selain kotak suara bersejarah tersebut, materi pameran sebagian besar adalah reproduksi Surat Kabar Kedaulatan Rakyat terbitan medio 1955. Pengunujung diajak bernostalgia menyimak berita-berita terkait dengan pemilu pertama di Indonesia.

Membaca berita yang ditulis dengan bahasa Indonesia ejaan lama cukup unik dan menggelitik Seperti headline berita “Bung Karno dan Bung Hatta berikan Suara, Dinama2 keamana terdjamin”, himbauan Bung Hatta “Rakjat Indonesia Datanglah Memilih”. Juga, dokumentasi berita tentang perolehan suara Pemilu 1955 juga dapat anda simak

25.000 Bibit Albaziah untuk Desa Watugajah


21/03/2009 08:17:43 GEDANGSARI (KR) – Small and Medium Enterprises Development Centre (SMEDC) UGM Tbk bekerja sama dengan PT Danareksa menyerahkan bantuan 25.000 bibit pohon albaziah atau sengon laut ke Desa Watugajah Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul, Rabu (18/3). Bantuan secara simbolis yang ditandai dengan penandatanganan serah terima ini sebagai wujud program bina lingkungan.

Penandatanganan bantuan dilakukan Direktur PT Danareksa Drs Wahzari Wardana, Kepala SMEDC UGM Ir Gatot Murdjito MS, Bupati Gunungkidul Suharto SH, Kepala SD Watugajah dan Kepala TK ABA Dusun Jelok di SD Watugajah, Gedangsari, Gunungkidul. Kepada wartawan Gatot Murdjito mengatakan kegiatan ini merupakan wujud pelaksanaan program sinergi pemberdayaan potensi masyarakat.
Di antaranya melalui pembudidayaan albaziah guna memenuhi kebutuhan kayu. Juga untuk mencegah penggundulan, mengurangi erosi dan longsornya lahan di Watugajah, tutur Gatot Murdjito sambil menambahkan, 25.000 bibit albaziah tersebut akan ditanam di 5 dusun di Desa Watugajah yaitu di Plasan, Jelok, Gunungcilik, Tamansari dan Watugajah.
Setiap dusun mendapatkan 5.000 bibit yang dibagikan ke sejumlah RT, diteruskan kepada warga masyarakat di 5 dudun. Untuk kesepakatan hasil 4-5 tahun 70 persen untuk warga penanam, 10 persen (RT), 5 persen (RW), 5 persen (dusun) dan 10 persen (UGM). Dipilihnya albaziah karena jenis pohon ini dalam jangka waktu yang pendek bisa menghasilkan kayu dengan prospek harga yang bagus.
Sementara Bupati Gunungkidul Suharto SH mengatakan, Desa Watugajah merupakan daerah yang memiliki karakteristik alam yang berbeda dengan daerah lainnya di Kabupaten Gunungkidul. Watugajah memiliki lapisan tanah yang dalam sehingga bisa ditanami pohon albaziah. Sementara di daerah lain lapisan tanahnya tidak begitu dalam sehingga sulit untuk ditanami pohon albaziah.
Kegiatan atau gerakan menanam semacam ini diharapkan bisa ikut membantu dalam pembangunan pondasi pertanian yang kuat di Gunungkidul, ujar Suharto.
Direktur PT Danareksa Drs Wahzary Wardaya menuturkan penanaman pohon albaziah ini disamping untuk mencegah erosi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan.
Selain diserahkan bantuan bibit pohon, juga sarana pendidikan ke SD Watugajah berupa 1 paket alat peraga matematika, 2 buah meja kursi guru, 2 buah komputer dan buku untuk koleksi perpustakaan.
Untuk TK ABA Dusun Jelok diserahkan bantuan berupa 1 buah meja kursi guru, 10 buah meja murid, 4 buah alat permainan dan 1 buah papan tulis white board sebagai bentuk dukungan terhadap program pendidikan anak usia dini. Penyerahan dihadiri Ketua Senat Akademik (SA) UGM Prof Dr dr Sutaryo, kelompok tani, perajin perak, pedagang buah dan kelompok pedagang hasil pertanian. (Asp)

PANEN SRIKAYA

GEDANGSARI PANEN SRIKAYA ; Bukti Keberhasilan Diversifikasi Lahan Kritis

Petani lahan kering di Kecamatan Gedangsari, berhasil membuktikan keberhasilan diversifikasi lahan kritis menjadi kawasan subur yang menjanjikan dengan menggalakkan budidaya tanaman buah srikaya. Hasil budidaya tersebut mulai memasuki panen raya, dan secara simbolis Bupati Gunungkidul Suharto SH diberi kesempatan untuk memetik srikaya di lereng bukit Dusun Jelok Desa Watugajah, Senin (16/2).

Dilaporkan Ketua Kelompok Tani (Klomtan) Sidomulyo Desa Watugajah Kecamatan Gedangsari, Yanto Suparno, kawasan lahan pertanian yang sebagian besar berada di lereng perbukitan dalam beberapa tahun lalu kurang menjanjikan. Khususnya untuk lahan budidaya tanaman pangan. Keberhasilan masyarakat memanen srikaya ini sekaligus menjadi tanaman perintis dan mampu mengubah lahan kritis menjadi kawasan subur.

”Sejak tanaman srikaya berkembang, lahan pertanian semakin subur dan mampu mencegah terjadinya erosi tanah dan menyebabkan lahan pertanian dapat ditanami maksimal,” katanya.
Karena dengan lahan pertanian yang berbukit dan sebagian hanya batu, untuk ditanami padi dan palawija, semula tidak cocok. Meskipun tingkat kesuburan lahan sangat terbatas, tetapi dengan tanaman srikaya varietas Sinyonya hasilnya justru melimpah. Sebagaimana lahan milik kelompok tani ini seluas 165 hektar, yang ditanami srikaya ada 87 hektar dengan jumlah tanaman mencapai 68.724 batang. Dari jumlah tanaman ini sekitar 51.000 batang sudah berbuah dan bisa dipanen.
Meskipun buah srikaya masa panen hanya setahun sekali, tetapi setiap batang diakui bisa menghasilkan 2 kg hingga 3 kg buah, sedang harga jual mencapai Rp 7.000/ kg. Berdasarkan perhitungan sementara, pada masa panen tahun ini diperkirakan mencapai 154 ton.

”Untuk pemasarannya tidak sebatas Gunungkidul, tetapi juga wilayah Klaten, Prambanan maupun Solo,” imbuhnya.
Bupati Gunungkidul yang melakukan panen perdana dengan memetik buah srikaya didampingi Camat Gedangsari Drs Sudjoko MSi dan pejabat pemkab lain, menyambut gembira kreativitas warga Gedangsari dalam mengolah lahan kritis. (Bmp-Kedaulatan Rakyat)
http://www.gunungkidulkab.go.id